Dosen Unsoed Tawarkan Model Paliatif Berbasis Keluarga Tangani Pasien Penyakit Berat
Dr. Bagas, dosen Unsoed, mengembangkan model perawatan paliatif berbasis rumah dan keluarga yang berakar pada budaya Indonesia, menekankan peran empati, kebersamaan, dan nilai lokal.
PURWOKERTO – Istilah perawatan paliatif mungkin masih terdengar asing bagi sebagian masyarakat. Padahal, konsep ini penting dalam penanganan pasien dengan penyakit berat.
Merujuk pada penjelasan World Health Organization (WHO), perawatan paliatif merupakan upaya meningkatkan kualitas hidup pasien dan keluarganya yang menghadapi penyakit serius, dengan cara mengurangi penderitaan fisik, psikologis, sosial, hingga spiritual.
Namun, perawatan paliatif tidak selalu harus dilakukan oleh tenaga medis di rumah sakit. Dosen Bioetika Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), dr. Raditya Bagas Wicaksono atau dr. Bagas, Senin (2/3/2026), menawarkan perspektif baru berupa model perawatan paliatif berbasis rumah dan keluarga.
Menurut dr. Bagas, dalam budaya Indonesia yang menjunjung tinggi kebersamaan dan musyawarah, keluarga memiliki peran sentral dalam pengambilan keputusan medis.

"Dalam konteks budaya Indonesia yang menjunjung tinggi nilai kebersamaan dan musyawarah keluarga, pendekatan ini menjadi perspektif baru dalam layanan kesehatan yang tidak bisa dilepaskan dari nilai sosial dan kearifan lokal,"ujarnya.
Gagasan tersebut merupakan hasil studi doktoralnya di UMC yang terafiliasi dengan University of Amsterdam (UoA), Belanda. Ia mempertahankan disertasi berjudul Home Palliative Care in Indonesia An Ethnographic Study of Family Involvement and Local Values pada akhir 2025.
Riset tersebut diselesaikan dalam waktu 3 tahun 9 bulan, lebih cepat dari rata-rata masa studi doktoral di Belanda yang berkisar 4 - 8 tahun. Para penguji internasional dari berbagai disiplin ilmu memberikan apresiasi positif, menilai penelitian ini berkontribusi signifikan bagi pengembangan layanan paliatif di negara berkembang, khususnya pada masyarakat dengan keterbatasan sumber daya namun memiliki jejaring keluarga yang kuat.
Sebagai penerima beasiswa LPDP, dr. Bagas menyatakan komitmennya untuk menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat Indonesia. Ia berencana mengembangkan program pelayanan paliatif rumah berbasis komunitas yang sensitif terhadap budaya lokal, sekaligus menyusun buku panduan komunikasi bagi pasien penyakit serius.
Dekan Fakultas Kedokteran Unsoed, Dr. dr. MM Rudi Prihatno, M.Kes., menilai capaian tersebut sebagai bukti lulusan Unsoed mampu bersaing di tingkat global tanpa meninggalkan akar persoalan bangsa.
"Capaian ini menjadi kebanggaan tersendiri, tidak hanya bagi dr. Bagas dan keluarga, tetapi juga bagi kami di Unsoed,"ujarnya.
Keberhasilan ini menegaskan bahwa ilmu pengetahuan tidak hanya soal gelar akademik, melainkan juga tentang empati dan keberpihakan. Dari Purwokerto hingga Amsterdam, gagasan dr. Bagas menghadirkan pesan bahwa perawatan terbaik bagi pasien tidak hanya bersumber dari teknologi medis, tetapi juga dari sentuhan keluarga dan nilai-nilai sosial yang hidup di masyarakat.(*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Berita ini juga tayang di portal nasional
Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.


