https://banyumas.times.co.id/
Berita

Masih Tersembunyi, Bosweisen Objek Wisata Baru di Dataran Tinggi Dieng Banjarnegara

Sabtu, 10 Januari 2026 - 14:09
Masih Tersembunyi, Bosweisen Objek Wisata Baru di Dataran Tinggi Dieng Banjarnegara Kawasan objek wisata Bosweisen di Desa Bakal Kecamatan Batur Kabupaten Banjarnegara. (FOTO: Muchlas Hamidi/TIMES Indonesia)

TIMES BANYUMAS, BANJARNEGARA – Tampak menyeramkan namun memiliki pemandangan yang indah dan menakjubkan. Itulah Bosweisen, padang rumput arti kata itu. Sebuah kawasan menyerupai ngarai dililit pegunungan dan bebatuan terjal. Tidak main - main luasnya mencapai 40 hektare.

‎Secara administratib, kawasan Bosweisen berada di Desa Bakal Kecamatan Batur Kabupaten Banjarnegara dan berbatasan langsung dengan wilayah Kabupaten Wonosobo. 

‎Kawasan ini menyimpan perpaduan unik antara sejarah kolonial Belanda, kesakralan spiritual, dan potensi wisata premium yang belum terjamah dan harus mulai dilirik serius oleh Pemerintah Kabupaten Banjarnegara.

‎Tokoh masyarakat sekaligus tetua pengelola Bosweisen, Muharor menyampaikan kawasan ini dapat disebut sebagai jantung spiritual Nusantara. 

‎Di sana berdiri Pendopo Sanghyang Bagasworo, yang diyakini sebagai tempat mufakat Eyang Semar saat membimbing ksatria Pandawa Lima. 

‎Tata ruangnya pun tak sembarangan yaitu dengan mengikuti filosofi Sedulur Papat Kalima Pancer. "Ada empat pintu jalan sebagai simbol empat penjuru mata angin—timur, selatan, barat, utara—dan diri kita sebagai pusatnya (pancer). Ini tempat untuk menenangkan diri, bukan untuk hura-hura," ungkap Muharor, Sabtu (10/1/2026)

‎Batu Semar Terbesar di Dunia

‎Kekayaan Bosweisen kian lengkap dengan hamparan batu Andesit purba yang konon menjadi material pembangunan candi-candi Dieng. 

‎Salah satu yang paling ikonik adalah Batu Semar, bongkahan batu raksasa yang secara alami menyerupai tokoh pewayangan tersebut.

‎Legenda pun menyebutkan bahwa bentang alam di sini, mulai dari telaga hingga sabana, merupakan sisa-sisa pertempuran Subali dan Sugriwa saat memperebutkan Cupu Manik Astagina.

‎Berbeda dengan pusat keramaian Dieng yang mulai padat, Bosweisen diharapkan sebagai destinasi eksklusif. Rencananya, sebuah "Kampung Jawa" berarsitektur Majapahit akan dibangun di sini.

‎"Harapannya ada klasifikasi penginapan. Ada kelas eksekutif seperti Vila Amanjiwo, kelas menengah berupa cottage, hingga barak untuk pelajar," lanjut Muharor.

Taman-Langit.jpg

‎Meski mengusung wajah klasik, fasilitas interiornya akan tetap berstandar hotel modern untuk kenyamanan wisatawan.

‎Kepala Desa Bakal, Madkhurodin, menambahkan bahwa pengembangan ini juga menjadi benteng terakhir bagi komoditas khas seperti Carica dan Terong Belanda. 

‎Di tengah gempuran alih fungsi lahan menjadi homestay di wilayah lain, Bosweisen akan mengintegrasikan agrowisata sebagai "pagar alam" sekaligus motor ekonomi warga.

‎Akses Jalan Baru Seadanya

‎Meski mempunyai potensi yang luas, namun jalan menuju Bosweisen masih memprihatinkan dan terkesan seadanya. Bahkan  Madkhurodin mengeluhkan akses jalan via Desa Bakal menuju Kawah Sikidang yang rusak berat dan rawan longsor.

‎Untuk itu ia memohon dukungan Pemerintah Daerah. Dana Desa tidak akan mencukupi untuk pengembangan kawasan sebesar ini, terutama untuk akses jalan berstandar kabupaten.

‎Menanggapi hal tersebut, Sekretaris Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Banjarnegara, Eryanto Arief, menyatakan bahwa Desa Bakal telah menjadi prioritas dalam tinjauan Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Daerah (Ripparda) tahun 2026. 

‎Namun, ia memberikan catatan penting bahwa Pembangunan fisik bukan yang utama. "Prinsipnya, destinasi bisa berkembang kalau SDM-nya kuat dulu. Tim Pokdarwis harus solid," ujar Eryanto. 

‎Eryanto mendorong para pengelola di Desa Bakal untuk belajar dari tokoh-tokoh lokal seperti Alif Faozi di Dieng Kulon atau Supri di Desa Dawuhan yang mampu bangkit meski diterjang bencana.

‎ "Pengelola harus punya jiwa entrepreneur dan mampu membangun jejaring dengan pemangku kepentingan, seperti Perhutani atau OPD terkait," tambahnya.

‎Ke depan, Bosweisen dipersiapkan menjadi magnet budaya baru. Ritual tahunan Sedekah Bumi setiap tanggal 14 Agustus direncanakan menjadi agenda besar yang menyaingi kemeriahan Dieng Culture Festival (DCF). Namun dengan sentuhan yang lebih sakral dan religius.

‎Bagi Banjarnegara, Bosweisen bukan sekadar proyek wisata. Ia adalah ikhtiar untuk menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi masyarakat dengan kelestarian alam di wilayah utara Kota Banjarnegara (*)

Pewarta : Muchlas Hamidi
Editor : Imadudin Muhammad
Tags

Berita Terbaru

icon TIMES Banyumas just now

Welcome to TIMES Banyumas

TIMES Banyumas is a PWA ready Mobile UI Kit Template. Great way to start your mobile websites and pwa projects.