CARE Indonesia Audensi Wakil Bupati Banjarnegara Terkait Pemberdayaan Petani Kopi Perempuan
CARE Indonesia berkolaborasi dengan Pemkab Banjarnegara memperkuat pemberdayaan 2.800 perempuan petani kopi, hilirisasi usaha, dan konservasi lewat konsep kredit karbon.
BANJARNEGARA – Yayasan CARE Indonesia melakukan audensi dengan Wakil Bupati Banjarnegara Wakhid Jumali Lc untuk menyampaikan program penguatan pemberdayaan petani kopi perempuan Banjarnegara.
Audiensi dilakukan di rumah dinas Wakil Bupati Banjarnegara pada Rabu (15/7/2026) dihadiri oleh Sekretaris Daerah Hendro Cahyono, kepala Dinas Pertanian Perikanan dan Ketahanan Pangan (DPPKP) Banjarnegara Firman Sapta Ady dan dinas terkait lainnya.
CEO Care Indonesia, Dr. Abdul Wahib Situmorang menjelaskan, program penguatan pemberdayaan petani kopi perempuan akan berjalan selama tiga tahun dengan fokus utama pada penguatan kapasitas kelembagaan petani di sektor hilir (off-farm).
Program ini ditargetkan menyasar 2.800 perempuan keluarga petani kopi di wilayah dataran tinggi Banjarnegara untuk meningkatkan nilai tambah ekonomi dan mendukung konservasi lingkungan.
CARE Indonesia, tidak hanya berfokus pada teknik budidaya, program ini juga menyasar pemberdayaan ekonomi perempuan sebagai penggerak utama keluarga petani kopi.
"Kami menargetkan 2.800 perempuan keluarga petani kopi. Selain bantuan teknis dan pendampingan, kami juga akan memfasilitasi pembentukan kelompok, literasi keuangan, hingga bantuan modal agar ekonomi keluarga petani tetap stabil meski di luar musim kopi," ujar Abdul Wahib.
Ia juga menawarkan inovasi melalui konsep kredit karbon (carbon credit). Mengingat Banjarnegara memiliki potensi lahan yang luas untuk konservasi, penanaman pohon kopi dan tanaman pendamping seperti alpukat atau durian di lahan-lahan kritis dapat dihitung nilai karbonnya sebagai pendapatan tambahan bagi daerah dan masyarakat.
Wakil Bupati Banjarnegara, Wakhid Jumali, menyambut positif kolaborasi strategis ini, mengingat sektor kopi memiliki potensi besar di Banjarnegara, walau masih menghadapi kendala pada hilirisasi dan nilai tambah bagi petani kecil.
"Ini adalah perfect timing. Pemkab Banjarnegara sangat terbuka untuk bersinergi. Kami berharap program ini mampu menjadi solusi bagi PR besar kami dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah dan menekan angka kemiskinan ekstrem di Banjarnegara," tandas Wakhid Jumali.
Senada juga disampaikan Kepala Dinas Pertanian Perikanan dan Ketahanan Pangan (DPPKP) Banjarnegara, Firman Sapta Adi. Ia juga menyatakan kesiapannya untuk segera menindaklanjuti program ini secara teknis.
Menurutnya, sinergi ini akan melengkapi program Upland yang telah berjalan sebelumnya, terutama dalam mengoptimalkan pengelolaan lahan produktif yang mencapai ratusan hektare.
"Kami sudah memiliki basis kelompok tani yang siap diintervensi. Dengan dukungan dari CARE Indonesia, kita akan menyasar perempuan petani agar lebih aktif mulai dari penanaman, perawatan, hingga pasca-panen. Ini langkah konkret untuk memperkuat hilirisasi kopi kita," kata Firman.
Pihak CARE Indonesia dijadwalkan akan kembali melakukan kunjungan ke Banjarnegara pada akhir Juli mendatang guna mendiskusikan proposal teknis dan pemetaan geospasial wilayah intervensi, sebagai langkah awal dimulainya implementasi program di lapangan. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Berita ini juga tayang di portal nasional
Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

