https://banyumas.times.co.id/
Berita

Otak Astronot Bisa Berubah Bentuk dan Posisi Ketika di Luar Angkasa

Selasa, 13 Januari 2026 - 18:34
Otak Astronot Bisa Berubah Bentuk dan Posisi Saat Berada di Luar Angkasa Penelitian ini menambah wawasan dalam bidang kedokteran kedirgantaraan yang berfokus pada dampak penerbangan luar angkasa dan lingkungan mikrogravitasi terhadap tubuh manusia.(FOTO: NBCNews/Getty Image)

TIMES BANYUMAS, JAKARTA – Sebuah penelitian baru telah menemukan bahwa otak manusia atau astronot berubah bentuk dan posisi setelah berada di luar angkasa dalam waktu yang lama.

Studi yang diterbitkan pada hari Senin kemarin di jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS) menemukan hasil, bahwa setelah penerbangan luar angkasa, otak para astronot miring ke atas dan bergeser ke atas dan ke belakang di dalam tengkorak relatif terhadap posisi normal mereka di Bumi.

Dilansir NBCNews, penelitian ini memiliki implikasi terhadap tujuan NASA untuk membangun pangkalan di bulan dan yang pada akhirnya akan melakukan misi berawak ke Mars.

Temuan para ilmuwan itu menyebutkan, area otak yang terpengaruh termasuk wilayah yang berhubungan dengan indra yang terkait dengan mabuk perjalanan, disorientasi, dan kehilangan keseimbangan.

Penelitian semacam ini sangat penting untuk perencanaan misi jangka panjang karena NASA berencana membangun pangkalan di bulan dan mengirim astronot lebih jauh ke tata surya.

“Kita perlu memahami perubahan-perubahan ini dan dampaknya untuk menjaga keselamatan dan kesehatan para astronaut serta melindungi umur panjang mereka,” kata seorang profesor di departemen fisiologi terapan dan kinesiologi di Universitas Florida, Rachael Seidler, yang juga menjadi salah satu penulis studi tersebut.

Seidler dan rekan-rekannya menganalisis hasil pemindaian MRI dari 26 astronot sebelum dan sesudah masa tugas mereka di orbit.

Waktu yang dihabiskan para astronot di luar angkasa berkisar dari beberapa minggu (untuk penerbangan pesawat ulang-alik) hingga sekitar enam bulan, durasi standar untuk misi di Stasiun Luar Angkasa Internasional.

Beberapa individu yang diteliti menghabiskan waktu yang lebih lama, yaitu selama setahun, di stasiun luar angkasa.

"Orang-orang yang mengikuti program selama setahun menunjukkan perubahan terbesar,” kata Seidler.

"Masih ada beberapa perubahan yang terlihat pada orang-orang yang mengikuti program selama dua minggu, tetapi durasi tampaknya menjadi faktor utama," katanya.

Dia menambahkan bahwa diantara para astronot yang telah berada di luar angkasa selama enam bulan atau lebih, pergerakan ke atas "cukup luas," terutama pada struktur di bagian atas otak.

“Perbedaannya sekitar beberapa milimeter,” katanya, “yang mungkin terdengar sepele, tetapi jika kita berbicara tentang pergerakan otak, itu sangat berarti. Perubahan semacam itu bisa dilihat dengan mata telanjang," ujar dia.

Seidler juga mengatakan, perubahan otak yang diamati terkadang menyebabkan "konflik sensorik" bagi para astronot saat berada di luar angkasa, yang bermanifestasi sebagai disorientasi sementara atau mabuk perjalanan.

Ketika kembali ke Bumi, perubahan tersebut juga bisa menyebabkan masalah keseimbangan saat para astronot menyesuaikan diri dengan gravitasi Bumi.

Namun ia mengatakan, penelitian tersebut tidak menemukan gejala serius, seperti sakit kepala atau gangguan kognitif, selama atau setelah penerbangan luar angkasa. "Itu mengejutkan saya,"  kata Seidler.

Sebagai perbandingan, tim peneliti juga menganalisis hasil pemindaian otak dari 24 peserta sipil di Bumi yang menjalani istirahat total di tempat tidur hingga 60 hari dengan posisi kepala dimiringkan ke belakang, sehingga kepala mereka berada 6 derajat di bawah kaki.

Idenya adalah untuk mensimulasikan lingkungan mikrogravitasi, dan para ilmuwan menemukan perubahan serupa pada posisi dan bentuk otak setelah periode istirahat total di tempat tidur. Namun, otak para astronot mengalami pergeseran ke atas yang lebih besar.

Dr. Mark Rosenberg, seorang asisten profesor neurologi di Medical University of South Carolina dan direktur program neurologi kedirgantaraan dan kinerja di universitas tersebut juga mengatakan, bahwa para ilmuwan telah mengetahui bahwa penerbangan luar angkasa bisa memengaruhi otak, tetapi studi Seidler adalah salah satu yang pertama mendokumentasikan bagaimana pergeseran ke atas tersebut memengaruhi fungsi astronot di luar angkasa dan kembali ke Bumi.

"Kita tahu otak bergeser ke atas, tetapi apakah hal itu benar-benar memiliki dampak operasional?” kata Rosenberg, yang tidak terlibat dalam penelitian ini. "Studi ini mampu membuat beberapa asosiasi tersebut," ujarnya.

Temuan ini menimbulkan pertanyaan baru untuk tindak lanjut potensial, seperti apakah ada perbedaan perubahan otak antara astronot pria dan wanita, dan apakah usia anggota kru merupakan faktor yang memengaruhinya.

Tetapi menyusun gambaran lengkap dibatasi oleh masalah ukuran sampel: Hanya sekitar selusin astronot yang diluncurkan ke Stasiun Luar Angkasa Internasional setiap tahun, dan korps astronot NASA secara historis didominasi oleh pria.

Penelitian lebih lanjut juga diperlukan untuk memahami apakah perubahan otak yang diamati memiliki dampak jangka panjang.

Sejauh ini, seperti kebanyakan perubahan lain pada tubuh astronot setelah menjalani tugas di luar angkasa, termasuk kehilangan massa tulang, penurunan kekuatan otot, dan redistribusi cairan,  perubahan tersebut tampaknya tidak permanen.

"Setelah tubuh menyesuaikan diri kembali dengan tarikan gravitasi Bumi yang sudah familiar, semuanya kurang lebih kembali normal," kata Rosenberg.

Namun, belum diketahui apakah lingkungan gravitasi yang berbeda akan menimbulkan komplikasi baru.

"Jika Anda pernah berada di Mars dengan gravitasi sepertiga gravitasi Bumi, atau di bulan dengan gravitasi seperenam gravitasi Bumi, apakah akan membutuhkan waktu tiga atau enam kali lebih lama untuk kembali normal?” kata Rosenberg.

Baik dia maupun Seidler mengatakan bahwa temuan sejauh ini tidak boleh dianggap sebagai argumen yang menentang manusia menghabiskan waktu lama di luar angkasa.

Namun, sangat penting untuk mengetahui apakah ada kerusakan permanen dan bagaimana cara menghindarinya, jika memungkinkan.

“Terlepas dari apakah kita mau mengakuinya atau tidak, pada akhirnya kita akan menjadi spesies penjelajah ruang angkasa,” kata Rosenberg. “Ini hanya masalah waktu. Dan ini hanyalah beberapa pertanyaan yang belum terjawab yang perlu kita selesaikan.

Untungnya, perubahan ini tidak permanen, dan otak para astronot bisa pulih sekitar enam bulan setelah mereka di luar angkasa dan kembali menginjakkan kakinya di Bumi. (*)

Pewarta : Widodo Irianto
Editor : Ferry Agusta Satrio
Tags

Berita Terbaru

icon TIMES Banyumas just now

Welcome to TIMES Banyumas

TIMES Banyumas is a PWA ready Mobile UI Kit Template. Great way to start your mobile websites and pwa projects.